Minggu, 06 Juni 2010

Materi Pembelajaran Apresiasi Seni Tari

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik,psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat sisiwa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada.

Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikutsertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Hal tersebut dimaksudkan supaya seni tari tidak menjadi momok yang menakutkan dan dibenci siswa. Sebaliknya, seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangjan dan sekaligus sebagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Materi Pembelajaran Apresiasi Seni Tari

Pembelajaran apresiasi seni tari ini merupakan rangkaian materi lanjutan modul pembelajaran seni budaya dan keterampilan. Setiap siswa memiliki keanekaragaman baik secara fisik, psikis, intelektual, sikap, minat, bakat dan sebagainya. Hal tersebut merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan segala upaya dan ketabahan serta kesabaran yang maksimal. Sering terdapat siswa yang kurang antusias atau kurang serius dalam melakukan gerakan-gerakan, hal semacam ini sesungguhnya amat menjengkelkan dan membosankan. Namun demikian masalah seperti itu perlu dihadapi penuh kesabaran dan ketenangan, sambil diupayakan mencari berbagai solusi untuk mengatasi masalah dan hambatan yang ada.

Guru seni harus berupaya semaksimal mungkin untuk memotivasi dan mengajak siswa dalam keikut sertaannya pada kegiatan pembelajaran seni tari. Dengan demikian seni tari justru harus menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan dan sekaligus berbagai ajang kreasi dan rekreasi bagi siswa. Oleh karena itu, kegiatan apresiasi ini merupakan merupakan stimulus bagi siswa untuk mencintai kekayaan khasanah seni budaya kita.

a) Pengertian, Tujuan, dan Aspek - Aspek Apresiasi

1. Pengertian Apresiasi

Apresiasi seni tari didalamnya mengandung tiga unsur seni dalam berapresiasi yaitu karya seni, aktivitas penciptaan,dan aktivitas penghayatan seni.Ketiga tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Secara etimologi apresiasi berasal dari kata asing ”Appreciation” (inggris), ”appreciatia” (belanda) dan “appreciatus” (latin), yang berarti (latin), yang berarti menghargai. Pada umumnya persoalan apresiasi itu sendiri di antaranya adalah memberikan penilaian dan penghargaan.

a. Apresiasi Seni Masyarakat

Apresiasi seni di masyarakat pada dasarnya terbagi atas dua golongan yaitu golongan masyarakat apresiasi rendah dan golongan apresiasi tinggi. Yang dimaksud dengan golongan masyarakat rendah adalah daya apresiasinya yang rendah, sedangkan yang dimaksud golongaan masyarakat tinggi adalah masyarakat yang daya apresiasinya tinggi.

b. Fungsi Apresiasi Tari

Fungsi tari apresiasi tari yaitu memberikan penghargaan, penikmatan, penilaian terhadap seni tari atau kesadaran terhadap seni tari. Penilaian fungsinya untuk mencari nilai-nilai seni tari,memahami isi dan pesan serta mengadakan perbandingan-perbandingan sehingga mendapatkan kesimpulan. Dalam proses apresiasi karya seni akan menimbulkan rasa puas,kecewa,senang dan lain sebagainya kepada penikmat.

c. Maksud Apresiasi Tari

Maksud dari apresiasi karya seni tari adalah penikmatan terhadap karya seni tari, dengan adanya pengertian yang baik. Selain itu pula maksud apresiasi seni tari adalah kesanggupan mengenal memahami suatu nilai yang terhadap pada sesuatu yang sangat agung atau luhur.

d. Tujuan Apresiasi Tari

Apresiasi tari mempunyai tujuan untuk mendapatkan pengalaman estetis yang didasari pengalaman si pengamat dalam kesanggupan menerima karya seni yang terarah dan bertujuan didapat dari seni murni atau seni pakai.

Untuk mengembangkan daya apresiasi seni tari kita dapat memanfaatkan sumber belajar baik secara langsung maupun tidak langsung.

1) Pemanfaatan sumber belajar secara langsung untuk menambah daya apresiasi seni tari,misalnya melihat secara langsung pertunjukan-pertunjukan atau pergelaran-pergelaran tari,mengadakan kunjungan ke sanggar-sanggar tari atau kunjungan ke para seniaman tari.

2) Pemanfaatan sumber belajar secara tidak langsung untuk menambahkan daya apresiasi seni tari,misalnya melalui menonton TV,film,gambar atau foto tari.

Aktivitas yang penting dalam karya seni khususnya dalam karya seni tari adalah:

1) Aktivitas kreatif (proses kreatif),proses yang berkenaan dengan proses penciptaan atau pembuatan karya seni,yang dilakukan oleh seniman.

2) Aktivitas apresiatif (proses apresiatif),proses yang berkenaan dengan penikmatan suatu karya seni dan dilakukan oleh para penikmat seni atau apresiator.

Kegiatan seni sering disebut juga sebagai proses komunikasi antara seniman yang menyampaikan pesan melalui karya seninya dengan penikmat sebagai apresiatornya yang berusaha menerima pesan dari karya seniman.

2. Langkah - Langkah Pembelajaran Kegiatan Apresiasi

Dalam kegiatan pembelajaran apresiasi seni tari, guru dapat melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Memberikan pengarahan dalam kegiatan apresiasi agar anak mempunyai sikap menyenangi/mengagumi dan menghargai karya tari.

b. Penyusunan rencana kegiatan yang dapat dilakukan di luar kelas (jika di sekitar sekolah ada sangga/pertunjukkan tari),yaitu rencana kunjungan ke sanggar tari atau melihat tari-tarian.

c. Memberikan cara penilaian terhadap karya tari yang bersifat obyektif.artinya cara memberikan penilaian secara mudah yang dapat dikerjakan anak.

Proses kegiatan apresiasi yang dapat dilakukan dengan cara:

1) Pengenalan terhadap seniman dan karya tari Indonesia

2) Melakukan penilaian karya tari yang mencakup penalaran, penafsiran dan pembahasan/ ulasan.

3) Mengisi formal evaluasi.

Tahapan-tahapan dalam apresiasi:

1) Pengamatan

2) Penghayatan

3) Penilaian dan penghargaan

4) Empati

3. Aspek - Aspek Apresiasi

Aspek-aspek yang ada dalam proses apresiasi, yaitu:

1. Karya seni

a) Jenis berkaitan dengan klasifikasi umum atas karya. Contoh: tari tradisional atau tari kreasi baru (tari tunggal, tari berpasangan, atau tari kelompok)

b) Fungsi, berkaitan dengan kondisi diperuntukan untuk apakah karya tari tersebut, contoh: termasuk tari untuk upacara, tari untuk hiburan, tari untuk pergaulan, atau tari untuk tontonan.

c) Media, berkaitan dengan bahan dan teknik yang disajikan. Contoh: penarinya dan teknik-teknik gerak yang dilakukan penari.

d) Visual, berkenan dengan hal yang paling penting yaitu unsure visual dan prinsip desain. Contoh: gerak, penguasaan ruang, penggunaan tenaga, rias, busana/ kostum, pola lantai.

2. Seniman dan latar belakang.

Aspek yang kedua dalam proses apresiasi ini adalah menyangkut seniman dan latar belakangnya. Dalam hal ini yang menyangkut seniman dan latar belakang penciptaannya disebut ekstraestetis.

Tanggapan ekstraestetis adalah berkenaan dengan upaya pemahaman dari pengamat atau apresiator terhadap hal-hal yang melatarbelakangi munculnya karya seni tersebut.

b) Seniman dan karya seni tari

1. Pengertian seniman

Pada dasarnya pengertian seniman tari sama dengan pengertian seniman secara umum,yaitu orang yang menghasilkan karya seni,seniman dalam bidang tari hasilnya berupa sebuah karya tari,predikat seniman tari berbeda dengan penari atau pelaku tari.

Seorang seniman tari tugasnya adalah menciptakan suatu karya tari,maka dapat dikatakan bahwa seniman tari adalah koreografer.Seorang koreografer harus mampu mengekspresikan ide-idenya atau imajinasinya ke dalam bahasa gerak,karena tari itu merupakan media komunikasi melalui gerak yang ritmis antar penikmat dengan koreografernya.

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa seniman tari antara lain harus memiliki:

a) Imajinasi yang tinggi

b) Kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak

c) Mempunyai daya kreativitas yang tinggi

d) Mempunyai kepekaan rasa keindahan yang tinggi.

2. Pengertian karya seni tari

Pengertian karya seni pada prinsipnya sama,yaitu tentang hasil ciptaan manusia,sedangkan karya seni tari,hasilnya berupa seni pertunjukkan (suatu karya seni tari).

Ada beberapa hal yang perlu diketahui dalam meningkatkan pengalamkan usaha untuk menambah kekayaan dan kemantapan profesi berkarya seni tari antara lain:

a) Kemantapan profesi

b) Kepekaan estetik

c) Keterampilan perbuatan estetik

B. Materi Pembelajaran Kreasi Seni Tari

Pertumbuhan jiwa seni pada setiap anak berbeda, tergantung lingkungan yang kondusif dan dan peran orang tua. Pengaruh tersebut menyebabkan jiwa seni yang dimiliki oleh setiap orang berbeda-beda intensitas dan kualitasnya. Dengan demikian proses kreatif akan terjadi bila kegiatan pembelajarannya dikondisikan dalam aktivitas kerja sama serta memiliki keberanian didalam merefleksikan sikap dalam bentuk kreativitas tari

1. Pengembangan Kreativitas

Dalam membantu mewujudkan kreativitas anak, mereka perlu dilatih keterampilan tertentu sesuai dengan minat pribadinya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat atau talenta mereka. Untuk menumbuhkan motivasi intrinsic pada anak, sebaiknya anak diberikan kebebasan berpikir dengan menyediakan sarana dan prasarana yang merangsang minat anak, sehingga dorongan ke arah kreativitas menjadi semakin kuat.

Kreativitas anak dapat dihambat dengan suasana emosional yang mencerminkan rasa permusuhan, penolakan atau rasa terpisah. Tetapi keterikatan emosional yang berlebih juga tidak menunjang pengembangan kreativitas anak, mungkin karena kurang memberi kebebasan kepada anak untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan pendapat atau minat. Untuk mewujudkan kemampuan potensial mereka diperlukan pelayanan khusus dari guru yang memiliki karakteristik khusus dan mendapat pelatihan khusus..

2. Membangkitkan Kreativitas Siswa

Proses pendidikan adalah mempelajari situasi pendidikan dengan focus utama interaksi pendidikan, yaitu interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang berlangsung dalam lingkungan belajar. Syaodih (2003:31 dalam Sagala, 2005:120) mengatakan bahwa seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa, yaitu membantu pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimilikinya setingi-tingginya.

Guru mempunyai dampak yang besar tidak hanya pada prestasi pendidikan anak, tetapi juga pada sikap anak terhadap sekolah dan terhadap belajar pada umumnya. Namun guru juga dapat melumpuhkan keingintahuan anak, merusak motivasi, harga diri, dan kreativitas anak. Bahkan guru-guru dapat mempengaruhi anak melebihi orang tua. Hal ini disebabkan guru lebih banyak kesempatan untuk merangsang atau menghambat kreativitas anak ketimbang orang tua.

Kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Cara yang paling baik bagi guru untuk mengembangkan kreativitas tari anak ialah dengan mendorong motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik akan tumbuh,bila guru memungkinkan anak bisa diberi otonomi sampai batas tertentu dikelas.

Untuk lebih menggali potensi peserta didik dalam menari anak diberi kebebasan mengembangkan dan mengekspresikan daya imajinasinya, sehingga potensi yang ada pada dirinya dapat betul-betul berkembang. Dalam proses kreatif ini guru berperan sebagai motivator dan fasilitator, anak didorong untuk dapat memecahkan masalahnya sendiri atau mengaktualisasikan diri melalui karya kreatifnya. Tari dalam konteks pendidikan menurut Yulianti Parani (1984), merupakan kegiatan yang kreatif dan konstruktif,serta menumbuhkan intensitas emosional dan makna-makna. Ia dapat menjadi aktivitas rekreasi, tetapi juga dapat menjadi alat ekspresi dan laku estetis, dan disinilah letak nilainya bagi anak-anak. Dalam pendidikan, gerak tari harus kita amati dari watak ekspresinya sebab inilah yang mencerminkan nilai imajinasi anak.

Pada anak usia SD/MI juga masih tergolong pada masa peniruan, karena anak lebih suka menirukan gerak-gerik oranng dewasa dan objek apapun tidak lolos dari pengamatannya yang kemudian dijadikan bahan peniruannya. Tindakan meniru ini adalah awal anak belajar, sehingga dalam susunan tarian anak-anak sifatnya lebih kepada peniruan atau imitatif.

Melalui pembelajaran seni tari di SD/MI diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas siswa, sehingga kelak dikemudian hari ia mampu berdiri diatas kaki sendiri.

3. Komposisi Tari

Komposisi pada dasarnya dilakukan melalui percobaan-percobaan (trail and error) dengan landasan pengetahuan kepekaan, dan intuisi. Pengetahuan komposisi adalah pengetahuan yang harus diketahui oleh seseorang yang bermaksud hendak mencipta atau menata tari. Sejak mengolah, memilih, dan menyusun/menata gerak selaras dengan persyaratan yang dibutuhkan untuk keberhasilan pementasan didepan penonton (Sal Murgiyanto, 1981:6).

Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam rangka mencapai sebuah komposisi adalah adanya prinsip-prinsip bentuk seni, diantaranya yaitu: Kesatuan yang utuh (Unity), Keragaman (Variasi), Pengulangan (Repetisi), Kontras, Transisi, Urutan (Sequence), Klimaks, Keseimbangan (Balance), dan harmoni.

a. Desain Lantai

Yang dimaksud dengan desain lantai atau floor design adalah garis-garis dilantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang terbentuk oleh formasi penari kelompok. Secara garis besar terdapat dua pola garis dasar pada lantai, yaitu pola garis lurus dan pola garis lengkung (Purwatiningsihm 1998/1999:144). Sementara itu menurut La Meri (Dalam Soedarsono, 1975:4), desain lantai adalah pola yang dilintasi oleh gerak-gerak darikomposisi diruang tari.

· Ruang Tari (Dancing Space)

1. Daerah yang paling kuat dalam ruang tari ialah dead center. Secara urut kekuatan ruang dalam tari ada enam daerah, yaitu up center, down-center, up-right, up-left,down-right, dan down left.

2. Daerah yang paling lemah dari stage ialah bagian-bagian samping. Daerah lemah lainnya ialah down stage: antara pusat dari kanan serta pusat dari kiri; right-stage:antara up dan down; left-stage: antara up dan down; up-stage dari pusat (tengah) kekiri dan kanan.

3. Untuk masuk dan keluar, tempat yang paling kuat ialah center-up (back). Tempat lainnya adalah empat susut (up-right dan up-left, down-right dan down left).

· Pola-Pola Garis Dasar

1. Garis lurus dapat bergerak ke up-stage atau down stage, menyilang atau menyudut (serong).

2. Dasar dari desain V atau kebalikan dari V, dari segitiga, dan desain T atau kebalikannya, dari kaca jam dan zig-zag.

b. Desain Atas

Desain atas (Air design) menurut La Meri dalam Soedarsono (1976:23), adalah design yang berada di udara di atas lantai, yaitu design yang dilihat olelh penonton terlintas pada back drop. Purwatiningsih (1998/1999:173) menyatakan bahwa desain atas (air design) adalah desai yang berada diatas lantai, yang dilihat oleh penonton yang tampak terlukis pada ruang yang berada diatas lantai.

Dalam desain air terdapat elemen-elemen dasar yang menurut La Meri ada 16 elemen dasar, sedangkan menurut Purwatiningsih ada 19 elemen dasar yang masing-masing memiliki sentuhan emosional tertentu terhadap penonton. Elemen-elemen dasar itu antara lain:

1. Datar

2. Dalam

3. Vertikal

4. Horizontal

5. Kontras

6. Murni

7. Statis

8. Lurus

9. Lengkung

10. Bersudut

11. Spiral

c. Desain Dramatik

Desain dramatik dari sebuah komposisi adalah tanjakan emosional, dinamika dan jatuhnya keseluruhan. Desain dramatik juga mempunyai arti sebagai pengaturan dan perkembangan emosional dan sebuah komposisi untuk me ncapai klimaks serta pengaturan bagaimana cara menyelesaikan atau mengakhiri sebuah tarian.

Untuk mendapat keutuhan garapan tari baik yang berbentuk tari solo maupun tari kelompok, harus diperhatikan desain dramatiknya. Satu garapan tari yang utuh ibarat sebuah ceritera yang memiliki pembuka, klimaks, dan penutup. Dalam menata desain dramatik, ada dua buah desain garisyang dapat diikuti,yaitu desain yang berbentuk kerucut tunggal dan desain yang berbentuk kerucut ganda.

Desain kerucut tunggal


Desain kerucut ganda


C. Materi Pembelajaran Kreasi Seni Tari di SD/MI

a. Pembelajaran Seni Tari di SD dan MI

Terdapat dua hal sebagai pertimbangan pelaksanaan pendidikan seni tari di sekolah dasar yaitu pertama, tari diajarkan untuk memberikan pengalaman kepada seseorang agar mampu mempresentasikan diri di hadapan orang lain (sebagai pengembangan aspek kepribadian). Kedua, tari diajarkan untuk memberikan pengalaman kepada seseorang untuk mengungkapkan ide atau gagasannya (pengalaman berkarya).

Terdapat 4 komponen dalam pembelajaran seni tari di SD/ MI, yaitu :

v Komponen Tujuan

Tujuan pembelajaran tari di SD dan MI ini ialah menumbuhkan kepekaan rasa estetik dan artistik sehingga terbentuk sikap kritis, apresiatif dan kreatif pada diri siswa. Sikap ini hanya akan tumbuh bila dilakukan serangkaian kegiatan melalui keterlibatan siswa dalam segala aktivitas seni, baik di dalam kelas maupun di luar kelas.

v Komponen Bahan/ Materi

Untuk pemenuhan komponen bahan pembelajaran tari di sekolah dasar, ruang lingkupnya diarahkan kepada pembelajaran praktik dan pembelajaran apresiatif. Untuk bahan ajar praktik dapat dilakukan melalui penerapan metode kreatif, sedangkan untuk pembelajaran apresiatif dilakukan melalui pengamatan terhadap objek baik melalui sajian pertunjukan tari secara langsung atau melalui sajian dari visual – auditif melalui VCD, film, dsb.

1) Pembelajaran Praktik

Istilah metode kreatif sudah diterapkan dalam pembelajaran seni tari baik di TK, SD, maupun di sekolah – sekolah lanjutan. Hal ini karena penerapan metode kreatif relevan dengan pengembangan kretivitas sebagai upaya pengembangan daya imajinasi siswa.

Metode kreatif adalah suatu metode yang digunakan untuk menggali potensi siswa melalui berbagai stimulus. Menurut Akub Tisnasomantri (1991/ 1992 : 2) penggunaan istilah metode kreatif dalam pembelajaran tari adalah yaitu “merupakan suatu metode yang dapat membantu pembentukan kepribadian anak, karena kegiatan dalam metode itu berada pada pihak anak”.

2) Gerak Badani

Untuk pembelajaran gerak badani bisa dilakukan berdasarkan urutan anggota badan yang kemudian dilanjutkan kepada penguasaan gerak berirama.

a) Latihan penguasaan gerak kaki

b) Latihan penguasaan gerak badan

c) Latihan penguasaan gerak lengan dan tangan

d) Latihan penguasaan gerak kepala

e) Latihan penguasaan gerak gabungan

3) Unsur – Unsur Tari

Yang termasuk dalam unsur – unsur dasar tari adalah gerak, ruang, tenaga, dan tempo/ waktu.

Gerak ; gerak dalam tari merupakan medium utama, karena secara visual tari dapat dinikmati melalui gerak itu sendiri.

Ruang ; ruang diartikan sebagai tempat ruang gerak untuk mengekspresikan imajinasi yang kita miliki.

Tenaga ; tenaga merupakan kekuatan yang akan mengawali, mengendalikan dan menghentikan gerak.

Tempo/ waktu yaitu berkaitan dengan waktu untuk menyelesaikan suatu gerakan.

v Komponen Pendekatan Pembelajaran Apresiasi

a) Pendekatan Aplikatif

Pembelajaran aplikatif adalah suatu cara pembelajaran yang berorientasi kepada praktik untuk mengembangkan kegiatan penciptaan atau kretivitas.

b) Pendekatan Kesejarahan

Pendekatan kesejarahan yaitu apresiasi seni yang ditempuh melalui pengenalan sejarah seni.

c) Pendekatan Problematik

Pendekatan problematik yaitu mengungkapkan dan menyoroti masalah serta lika – liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmati seni.

v Komponen Metode dan Alat

Metode dan alat merupakan jembatan atau media transformasi bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk penggunaan alat atau media bisa berupa material yang bisa digunakan untuk membantu dan mendukung ungkapan tarian. Misalnya selendang, kipas, tongkat, topeng, dll. Alat atau media yang lebih umum digunakan untuk tarian anak – anak, diantaranya saputangan, kipas, payung, cangkul, bakul, rebana, topeng, tempurung kelapa, dll.

v Komponen Penilaian

Komponen penilaian dalam bahasan ini lebih difokuskan pada penilaian pembelajaran tari. Cara penilaiannya termasuk ke dalam penilaian non-test. Adapun kriterianya adalah kesungguhan, kedisiplinan, keaktifan, keberanian, kerja sama, dan inisiatif. Untuk melakukan penilaian hasil, kriteria yang digunakan yaitu wiraga, wirahma, wirasa dan harmoni. Iyus Rusliana (1982/ 1983: 15-17) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan wiraga adalah ungkapan penari secara fisikal dari awal sampai akhir menari. Adapun kriteria wiraga meliputi hafal, teknik, dan ruang. Wirahma adalah kemampuan bergerak tepat dengan irama (musik iringan tari). Wirasa adalah kemampuan bergerak secara ekspresif atau kemampuan dalam menyertakan ekspresi (raut muka/ mimik) ke dalam tarian yang dibawakan. Harmoni yaitu kesan keseluruhan dari tarian yang dibawakan oleh penari.

b. Memanfaatkan Berbagai Bahan Ajar Dalam PBM Tari

Bahan ajar adalah isi dari mata pelajaran atau bidang studi yangdiberikan kepada siswa sesuai dengan kurikulum yang digunakannya. Bahan ajar secara umum dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, yakni fakta, konsep, prinsip dan keterampilan. Pada pembelajaran tari fakta dapat dipelajari melalui informasi dalam bentuk lambang, misalnya pada gerak sembahan yang terdapat dalam tari klasik melambangkan bentuk penghormatan seseorang pada khalik, orang tua, tamu kehormatan dan khalayak yang hadir.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menetapkan bahan ajar, yakni:

1. Bahan ajar harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan

2. Bahan yang ditulis dalam perencanaan mengajar, terbatas pada konsep saja, atau dibuat secara garis besar dan bahan tidak perlu dirinci

3. Menetapkan bahan ajar harus sesuai dengan uraian tujuan

4. Urutan bahan hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas)

5. Bahan disusun dari yang sederhana menuju yang kompleks, dari yang mudah menuju yang sulit, dari yang konkrit menuju yang abstrak

6. Sifat bahan ada yang faktual dan ada yang konseptual. Bahan yang faktual sifatnya konkrit dan mudah diingat, sedangkan yang bersifat konseptual berisikan konsep-konsep abstrak, dan memerlukan pemahaman

Menetapkan bahan ajar dalam perencanaan mengajar tidaklah terlalu sulit, asal tujuan pembelajaran dirumuskan dengan jelas, dan terdapat buku sumber yang berkenaan dengan bahan tersebut. Yang sulit adalah mengorganisasi bahan dan membahasnya dalam proses belajar mengajar sehingga dapat dipahami siswa.

Menurut Sudirman (dalam Syaiful Bachri Djamarah, 2002:49) mengemukakan bahwa ”salah satu sumber belajar bagi anak didik, bahan yang disebut sebagai bahan pelajaran (pengajaran) sesuatu yang membawa pesan untuk tujuan pengajaran”. Lebih lanjut Sudirman (dalam Syaiful Bachri Djamarah, 2002:51) mengemukakan bahwa ”minat seseorang akan muncul apabila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya”.

Untuk lebih jelasnya mengenai bahan ajar ini dapat disimak pada pengelompokan jenis bahan ajar seperti berikut :

1. Bahan Ajar Cetak

Bahan cetak dapat ditampilkan dalam bentuk. Jika bahan ajar cetaktersusun secara baik maka bahan ajar akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti yang diungkapkan Steffen Peter Ballstaedt (Majid, 2005:175) bahwa:

1. Bahan tertulis biasanya menampilkan daftar isi, sehingga memudahkan guru untuk menunjukkan kepada peserta didik bagian mana yang sedang dipelajari

2. Biaya untuk pengadaannya relatif sedikit

3. Bahan tertulis cepat digunakan dan dapat dengan mudah dipindah-pindahkan

4. Menawarkan kemudahan secara luas dan kreativitas bagi individu

5. Bahan tertulis relatif ringan dan dapat dibaca dimana saja

6. Bahan ajar yang baik akan dapat memotivasi pembaca untuk melakukan aktivitas, seperti menandai, mencatat, membuat sketsa

7. Pembaca dapat mengatur tempo secara mandiri

Adapun jenis-jenis bahan ajar antara lain:

a) Handout

Handout adalah bahan tertulis yang disiapkan oleh seorang guru untuk memperkaya pengetahuan peserta didik.

b) Buku

Buku adalah bahan tertulis yang menyajikan ilmi pengetahuan. Isi buku didapat dari berbagai cara misalnya hasil penelitian, hasil pengamatan, aktualisasi pengalaman, otobiografi, atau hasil imajinasi seseorang yang disebut sebagai fiksi.

c) Modul

Modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, sehingga modul berisi paling tidak tentang segala komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkan sebelemnya.

d) Lembar kegiatan siswa

Lembar kegiatan siswa adalah lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan siswa.

e) Brosur

Brosur adalah informasi tertulis mengenai suatu masalah yang disusun secara bersistem atau cetakan yang hanya terdiri atas beberapa halaman dan dilipat tanpa dijilid berisi keterangan singkat tetapi lengkap mengenai lembaga-lembaga pendidikan, perusahaan atau organisasi.

f) Leaflet

Leaflet adalah bahan cetak tertulis berupa lembaran dilipat. Leaflet didesain secara cermat dilengkapi dengan ilustrasi yang menarik dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan singkat sehingga mudah difahami.

g) Wallchart

Wallchart adalah bahan cetak, biasanya berupa bagan siklus/proses atau grafik yang bermakna menunjukkan posisi tertentu.

h) Foto/gambar

Foto/gambar memiliki makna yang lebihh baik dibanding tulisan. Bahan ajar ini akan bermakna bila memiliki kriteria berikut:

1) Gambar harus mengandung sesuatu yang dapat dilihat dan penuh dengan informasi/data, sehingga pembelajaran melalui foto/gambar ini akan lebih efektif.

2) Gambar harus bermakna dan dapat dimengerti, sehingga tidak mengaburkan pemahaman si pembaca.

3) Lengkap, rasional untuk digunakan dalam proses pembelajaran, bahan diambil dari sumber yang benar, sehingga pembelajaran menjadi benar-benar bermakna.

i) Model/Maket

Desain model/maket yang dibuat sedemikian rupa akan memberikan makna hampir sama dengan aslinya.

2. Bahan Ajar Dengar (Audio)

a. Kaset, piringan hitam dan compact disk

Dalam pembelajaran tari kasetdapat dijadikan sebagai bahan ajar yakni sebagai rangsang audio.

b. Radio

Radio broadcasting adalah media dengar yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar, dengan radio peserta didik bisa belajar sesuatu.

3. Bahan Ajar Audio Visual

a. Video/Film

Beberapa keuntungan jika bahan ajar ini digunakan, antara lain:

a) Dengan video/film seseorang dapat belajar sendiri

b) Sebagai media pandang dengan video/film menyajikan situasi yang komunikatif dan dapat diulang-ulang

c) Dapat menampilkan sesuatu yang detail dari benda yang bergerak, kompleks yang sulit dilihat dengan mata.

d) Video dapat dipercepat maupun diperlambat, dapat diulang pada bagian tertentu yang perlu lebih jelas, dan bahkan dapat diperbesar

e) Memungkinkan pula untuk membandingkan antara dua adegan berbeda diputardalam waktu bersamaan

f) Video juga dapat digunakan sebagai tampilan nyata dari suatu adegan, mengangkat suatu situasi diskusi, dokumentasi, promosi suatu produk, interview, dan menampilkan satu percobaan yang berproses.

Kekurangan dari program video adalah proses pembuatannya yang memerlukan waktu relatif lama dan biaya besar.

b. Orang/narasumber

Orang sebagai sumber belajar dapat juga dikatakan sebagai bahan ajar yang dapat dipandang dan didengar, karena dengan orang seseorang dapat belajar, misalnya karena orang tersebut memiliki keterampilan khusus tertentu.

4. Bahan Ajar Interaktif

Bahan ajar multimedia interaktif adalah kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik, gambar, animasi, dan video) yang oleh penggunanya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah dan atau perilaku alami dari suatu presentasi.


BAB III

PENUTUP

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa :

1. Dalam apresiasi seni tari mengandung tiga unsur seni, yaitu karya senni, ktivitas penciptaan, dan aktivitas penghayatan seni. Adapun aspek – aspek dalam seni tari yaitu karya seni, seniman, dan karya seni tari.

2. Seniman tari harus memiliki imajinasi yang tinggi, kemampuan untuk mengekspresikan imajinasinya melalui bahasa gerak, mempunyai daya kreativitas dan kepekaan rasa keindahan yang tinggi.

3. Untuk lebih menggali potensi peserta didik guru dapat memberikan kebebasan pada anak untuk mengembangkan imajinasinya sendiri tanpa campur tangan guru. Seluruh kegiatan kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan siswa.

4. Desain lantai atau floor design adalah garis-garis di lantai yang dibentuk oleh seorang penari, atau garis-garis dilantai yang dibentuk oleh formasi penari kelompok. Sedangkan design atas adalah desian yang berada diudara di atas lantai,yaitu desain yang dilihat oleh penonton terlintas pada back drop.

5. Elemen – elemen dasar dalam desain atas, yaitu: desain datar, desain dalam, desain vertikal, desain horizontal, desain kontras, desain murni, desain statis, desain lurus, desain lengkung, desain bersudut, desain spiral, desain tinggi, desain medium, desain rendah, desain terlukis,desain tertunda, desain lanjutan, desain simetris, dan desain asimetris.

6. Pembelajaran seni tari tidak terlepas dari komponen-komponen pembelajaran seperti tujuan, bahan/materi, metode dan alat/media, dan penilaian.

7. Pembelajaran tari dapat dibagi menjadi dua, yaitu pembelajaran praktek dan pembelajaran apresiatif

8. Bahan ajar ialah isi yang diberikan kepada siswa pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Bahan ajar terdiri atas bahan cetak, bahan ajar audio, bahan ajar pandang dengar (audio visual) bahan ajar interaktif.


DAFTAR PUSTAKA

A.M. Sardiman. 2006. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Cahyono, Agus. 2003. Materi dan Pembelajaran Kertakes SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Hidayat, Robby. 2005. Menerobos Pembelajaran Tari Pendidikan. Malang: Banjar Seni Gantar Gumelar.

Karyati, Dewi dkk.2005. Pengantar Bahan Ajar Pendidikan Seni Tari dan Drama. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Purwatiningsih, Ninik Hartini. 1999. Pendidikan Seni Tari-Drama. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Soedarsono. 1978. Tari-Tarian Indonesia I. Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Menngajar. Bandung: Sinar Baru.

Tisnasomantri, Akub. 1990. Metode Pengajaran Praktek Tari. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

MATERI PEMBELAJARAN SENI TARI

Makalah

Disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah

” Pembelajaran Kertasbud MI ”




Dosen Pembimbing :

Lidya Ziniyah, S.Pd

Oleh :

Kelompok IV

Nur Muthmainnah D06207002

Anis Nur Laili D06207007

Jazilatul Hikmiyah D06207014

Endah Dwi Wahyuni D06207031

FAKULTAS TARBIYAH

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

2009

1 komentar:

  1. Terima kasih atas infonya.Makalah diatassangat membantu sekali, ada gak Referensi dari APRESIASI buku paketnya?? balas yeee

    BalasHapus